warehouse

Sepuluh Jenis Warehouse Berdasarkan Fungsinya

Saat ini kita bisa menemukan berbagai jenis warehouse. Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai sepuluh Jenis warehouse berdasarkan fungsinya.
Berikut adalah beberapa jenis warehouse berdasarkan fungsinya:

  1. Warehouse Tempat Penyimpanan Bahan Baku
    Warehouse ini menyimpan bahan baku dan berbagai komponen yang dibutuhkan dalam proses produksi. Ketersediaan bahan baku harus dipastikan agar produksi berjalan terus menerus.

    Jenis Warehouse Berdasarkan Fungsinya
    Warehouse bahan baku. Source: www.chinapacrim.com

    Bahan baku produksi yang disimpan dapat berupa plastik, berbagai jenis logam, pasir, kakao dan lainnya. Bahan baku untuk produk makanan biasanya disimpan terlebih dahulu untuk menjamin adanya pasokan. Fasilitas penyimpanan dapat dalam bentuk bangunan, tangki ataupun tempat terbuka.

  2. Intermediate Warehouse
    Warehouse ini digunakan untuk menyimpan produk sementara waktu untuk menunggu tahapan proses produksi selanjutnya.

    Intermediate Warehouse. Source: www.shcalin.com

    Selain itu warehouse ini juga bisa menjadi tempat untuk melakukanĀ  proses kustomisasi sebelum produk tersebut dikirim ke customer.
    Beberapa proses yang biasa dilakukan pada warehouse ini antara lain:

    • Memberikan kemasan khusus, perubahan ataupun penambahan label. Misalnya pemberian label sesuai dengan bahasa yang diinginkan
    • Proses perakitan komputer, mulai dari pemasangan graphic card, processor, memori hingga instalasi software.
    • Produk bundling untuk kegiatan promosi
    • Penambahan item barang yang spesifik untuk negara tertentu, misalnya colokan listrik.
  3. Finished Goods Warehouse
    Warehouse ini digunakan untuk menyimpan produk yang siap dijual.

    Finished Goods Warehouse. Source: suryamasgemilang.com

    Di dalam warehouse akan tersedia buffer stock yang digunakan misalnya untuk peluncuran produk baru, proyeksi permintaan customer ataupun antisipasi kenaikan permintaan customer.

  4. Consolidation and Transit Warehouse
    Warehouse konsolidasi menerima produk dari berbagai sumber dan menggabungkannya untuk pengiriman selanjutnya. Contohnya adalah pada Just-In-Time Center di industri otomotif, dimana komponen yang satu akan dikirimkan dengan komponen lainnya untuk diproses pada tahap produksi selanjutnya.

    Consolidation Warehouse. Source: bitlanders.com

    Contoh lainnya adalah di retail dimana warehouse menjadi tempat konsolidasi stok. Produk dari pemasok berbeda akan dikonsolidasikan sebelum dikirimkan ke toko.
    Strategi ini juga dimanfaatkan oleh produsen, dengan tidak mengirimkan langsung hasil produksi ke Distribution Center, tetapi dikirimkan terlebih dahulu di warehouse konsolidasi.

  5. Transhipment Center
    Transhipment center menerima produk dalam jumlah banyak dari pemasok dan memecahnya menjadi beberapa untuk selnjutnya dikirimkan ke berbagai lokasi.

    Ilustrasi Transhipment Center. Source: amerongen-kamphuis.com

     

  6. Cross-Dock Center
    Permintaan konsumen akan respon yang cepat membutuhkan proses yang cepat dalam melakukan pemindahan barang.

    Cross-Dock Center. Source: linkedin.com/pulse

    Ada empat skenario yang dapat terbantukan dengan cross-dock center:

    • Jika persediaan yang dibutuhkan memiliki konsistensi baik pada jenis item maupun kuantitas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya surplus.
    • Jika mengelola produk yang bersifat time sensitif dan mudah rusak. Dengan masa waktu simpan yang singkat, maka peritel harus mengirimkan barang dengan waktu yang singkat.
    • Jika customer tidak dapat mengetahui produk mana yang harus ada di dalam stok. cross-dock dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan persediaan barang dalam jumlah besar.
    • Saat memenuhi permintaan untuk customer yang bersedia menunggu. Item perabotan misalnya, customer biasanya mengharapkan pengiriman yang cepat. Daripada menyimpan barang-barang yang besar di dalam toko, peretail dapat menggunakan metode cross-docking untuk membantu mengurangi waktu pengiriman

    Alur proses cross-docking seperti demikian; barang-barang yang membutuhkan pengiriman ke pusat diberi label dan siap untuk dilakukan pengiriman lebih lanjut. Di sini setiap item akan diidentifikasi dan dikonsolidasikan dengan pengiriman lainnya. Item harus berada di dalam warehouse dengan waktu sesingkat mungkin. Targetnya adalah diterima hari ini maka hari ini akan dikirimkan.
    Meski demikian, pada proses cross-docking bisa saja terdapat kendala dalam penerapannya. Misalnya dukungan Warehouse Management System (WMS), Quality Control (QC), desain gudang ataupun bisa juga pada kerjasama antar supplier dan pengirim barang serta permintaan yang tidak pasti. Warehouse cross-dock juga dapat diimplementasikan di wilayah geografis terpencil untuk mentransfer barang ke kendaraan yang lebih kecil.
    Proses cross-docking ini bisa berlangsung di dalam maupun di luar gedung.

  7. Sortation Center
    Sortation center biasanya digunakan oleh perusahaan yang mendistribusikan surat, parsel ataupun palet. Barang-barang tersebut dikumpulkan dari berbagai tempat dan dikirim ke sortation center lalu akan diproses dengan cara dilakukan pemisahan dan pengelompokan yang biasanya mengacu pada kode pos. lalu dikonsolidasikan dan selanjutnya dikirimkan ke wilayah distribusi masing-masing.

    sortation center. source: kenoshanews.com

    Saat ini porses di sortation center semakin meningkat, seiiring dengan pertumbuhan e-commerce.

  8. Fullfillment Center
    Pertumbuhan e-commerce saat ini dapat kita lihat melalui pertumbuhan fullfilment center. Warehouse ini dirancang dan dilengkapi secara khusus untuk mengelola order kecil namun dalam volume yang sangat banyak.

    fullfilment center. source: businessinsider.com

    Selain itu, fullfilment center ini juga dapat berfungsi sebagai retur center. Hal ini dikarenakan pada e-commerce, peluang terjadinya retur sangatlah tinggi.

  9. Reverse Logistics Center
    Saat ini perusahaan menyadari bahwa dengan melakukan proses retur produk ataupun pemusnahan produk dengan cepat akan berpengaruh positif terhadap cash flow.

    Reverse Logistics Center. Source: linkedin.com/pulse

    Sejumlah warehouse telah disiapkan untuk menangani barang retur. Barang rusak ataupun barang yang tidak diinginkan dari pelanggan dikembalikan ke toko. Barang tersebut kemudian dikonsolidasikan dan dikirim ke reverse logistics center, dimana barang tersebut akan diperiksa, lalu selanjutnya akan diproses; bisa diperbaiki, di daur ulang atau dibuang.
    Ada catatan mengenai barang yang dibuang. Bahwa barang yang dibuang harus menyesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
    Proses logistik lainnya yang termasuk dalam proses reverse logistics misalnya pengembalian peralatan seperti palet.

  10. Public Sector Warehouse
    Selain warehouse yang dijalankan secara komersial, ada juga warehouse untuk public sector.

    Public Sector Warehouse. source: sumsel.tribunnews.com

    Di daerah tempat terjadinya bencana alam, implikasinya adalah dibukanya warehouse-warehouse di lokasi strategis. Hal ini untuk memastikan lokasi warehouse yang dekat dengan lokasi bencana dapat memberikan reaksi yang lebih cepat.
    Public sector warehouse juga dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan persediaan barang-barang pemerintah, misalnya alat tulis, seragam, perabotan, komputer dan lain-lain.

Artikel ini Juga Menarik:   Trend On-Demand Warehousing di Indonesia
Artha Nugraha Jonar
Berpengalaman mengelola warehouse, transportasi dan teknologi informasi di perusahaan penyedia jasa layanan logistik. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan logistik di Surabaya.
http://www.arthanugraha.com

Leave a Reply